Analogi Gigi
Barusan tadi pagi saya menemukan analogi jorok tentang rasa kebangsaan.
”Seperti gosok gigi bagian geraham, tapi ga mau gosok gigi bagian depan”
It’s gross..kata mba Fanny.
Yes, bagus kata saya...mungkin memang persis sedalam itu maksud saya waktu membuat analogi.
Jangan salah sangka, saya ga ada masalah sama rasa kebangsaan. Silakan undang Jon Pantau untuk membuktikan, saya yakin bisa menyanyikan semua lagu kebangsaan yang pernah diajarin waktu kita SD dulu. Saya juga beli bendera merah-putih kecil untuk ditempel di kaca mobil dalam rangka 17 agustus kmrn, 3 malah...2 untuk mobil yang ada di rumah, 1 untuk mobil kakak ipar saya. Biar cuma nonton di tivi, tp saya juga ikut teriak2 jadi suporter dan kirim doa setiap kontingen Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Dan masih banyak ekspresi kebangsaan yang selalu saya tunjukkan.
Kalau tadi pagi saya hampir ”meledak”, itu karena saya ga sengaja baca sederet kalimat pesan singkat yang bernafsu mau jadi pahlawan buat bangsa dan negaranya. Bukan di hape saya memang, mungkin si pengirim tau kalau sms itu dikirim ke saya bisa berakibat fatal. Bagian yang bikin ”meledak” adalah, si pahlawan wanna be melupakan bahwa sebelum jadi pahlawan untuk bangsa dan negaranya dia mesti jadi pahlawan untuk dirinya sendiri lebih dulu, mesti jadi pahlawan untuk keluarganya...mesti jadi pahlawan untuk lingkaran terdekatnya yang membutuhkan ke-pahlawan-annya, saudara-saudaranya kek, teman-temannya kek. Dikiranya bisa jadi pahlawan buat bangsa negaranya kalau ga jadi pahlawan dulu buat dirinya sendiri ?! Seperti melewati 1000 langkah tanpa langkah pertama ?!
Dan lagipula kenapa sih mesti ribut mau jadi pahlawan bagi bangsa dan negara...seolah-olah perbuatan baik cuma bisa dilakukan secara makro, secara besar-besaran! Jadi manusia-manusia kerdil yang setiap pagi bangun tidur dan bersyukur, berinteraksi tulus dengan orang lain, berangkat mencari nafkah dengan keikhlasan, menyenangkan orang lain dengan memberikan senyum, berolahraga rutin untuk kesehatan tubuhnya dan siapa pun yang melakukan berjuta-juta hal kecil lainnya untuk kebaikan dirinya sendiri, atau kebaikannya lingkungan terdekatnya adalah bukan pahlawan!
So stupid khan?! Stupid...stupid...stupid! Saya speechless...
Kelud, 18th August 2008
-fay-
”Seperti gosok gigi bagian geraham, tapi ga mau gosok gigi bagian depan”
It’s gross..kata mba Fanny.
Yes, bagus kata saya...mungkin memang persis sedalam itu maksud saya waktu membuat analogi.
Jangan salah sangka, saya ga ada masalah sama rasa kebangsaan. Silakan undang Jon Pantau untuk membuktikan, saya yakin bisa menyanyikan semua lagu kebangsaan yang pernah diajarin waktu kita SD dulu. Saya juga beli bendera merah-putih kecil untuk ditempel di kaca mobil dalam rangka 17 agustus kmrn, 3 malah...2 untuk mobil yang ada di rumah, 1 untuk mobil kakak ipar saya. Biar cuma nonton di tivi, tp saya juga ikut teriak2 jadi suporter dan kirim doa setiap kontingen Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Dan masih banyak ekspresi kebangsaan yang selalu saya tunjukkan.
Kalau tadi pagi saya hampir ”meledak”, itu karena saya ga sengaja baca sederet kalimat pesan singkat yang bernafsu mau jadi pahlawan buat bangsa dan negaranya. Bukan di hape saya memang, mungkin si pengirim tau kalau sms itu dikirim ke saya bisa berakibat fatal. Bagian yang bikin ”meledak” adalah, si pahlawan wanna be melupakan bahwa sebelum jadi pahlawan untuk bangsa dan negaranya dia mesti jadi pahlawan untuk dirinya sendiri lebih dulu, mesti jadi pahlawan untuk keluarganya...mesti jadi pahlawan untuk lingkaran terdekatnya yang membutuhkan ke-pahlawan-annya, saudara-saudaranya kek, teman-temannya kek. Dikiranya bisa jadi pahlawan buat bangsa negaranya kalau ga jadi pahlawan dulu buat dirinya sendiri ?! Seperti melewati 1000 langkah tanpa langkah pertama ?!
Dan lagipula kenapa sih mesti ribut mau jadi pahlawan bagi bangsa dan negara...seolah-olah perbuatan baik cuma bisa dilakukan secara makro, secara besar-besaran! Jadi manusia-manusia kerdil yang setiap pagi bangun tidur dan bersyukur, berinteraksi tulus dengan orang lain, berangkat mencari nafkah dengan keikhlasan, menyenangkan orang lain dengan memberikan senyum, berolahraga rutin untuk kesehatan tubuhnya dan siapa pun yang melakukan berjuta-juta hal kecil lainnya untuk kebaikan dirinya sendiri, atau kebaikannya lingkungan terdekatnya adalah bukan pahlawan!
So stupid khan?! Stupid...stupid...stupid! Saya speechless...
Kelud, 18th August 2008
-fay-

